#02—Kasih tak Sampai
Silvia Anggraini. Seorang gadis introvert berusia 21 tahun yang sebentar lagi akan menyandang gelar Sarjana Hukum. Wajahnya yang manis serta eye smile yang manis membuatnya menjadi sempurna. Cerdas dan manis, dua kata yang mewakili Silvia. Tak pernah pacaran sedari lahir juga merupakan salah satu pencapaiannya yang menurutnya keren. Selama di kampus, Silvia juga merupakan sosok yang cerdas sehingga tak sedikit dosen yang mengenalnya. Banyak prestasi pula yang telah ia torehkan selama menjadi mahasiswi aktif di kampus. Kemampuannya dalam debat dan dongeng berbahasa Inggris membuatnya mengkoleksi banyak piala, sertifikat dan juga medali emas.
Saat ini ia tengah berada di sebuah kafe bergaya minimalis dengan warna hitam putih yang mendominasi ruangan kafe ini. Tak sendiri, ia ditemani oleh Meisya---teman terdekat yang ia miliki di kampus sebesar ini. Sama-sama memiliki sifat introvert, membuat mereka dekat dan mulai berbagi curhatan. Sama-sama tidak pernah merasakan yang namanya pacaran juga persamaan yang mereka miliki. Ada kalanya mereka berdua merasa miris dengan diri mereka sendiri karena tak pernah merasakan bagaimana itu pacaran. Namun lagi-lagi mereka saling menguatkan dan memiliki prinsip jomblo sampai halal.
"Gak terasa ya Sil kita udah mau tamat aja. Padahal kayaknya kita baru ospek kemarin," ucap Meisya sembari mengingat-ingat masa lalu.
"Iya bener. Gak terasa banget. Tapi, yang terasa itu di skripsi. Pusing kepala ini cuma gara-gara skripsi," sahut Silvia dengan pikiran yang kembali menerawang masa lalu.
Mendengar sahutan dari Silvia membuat Meisya terkekeh karena apa yang dikatakannya emang benar. Skripsi membuat hidup mahasiswa tingkat akhir jauh dari ketenangan. "Inilah yang dinamakan perjuangan. Gak bakalan asik kalau gak ada skripsi, kita gak bakal bisa tau arti perjuangan untuk diri sendiri itu gimana," ucap Meisya yang membuat Silvia merasa miris dengan dirinya sendiri.
"Alasanmu gak pacaran itu apa sih, Sya?" tanya Silvia dengan serius. Pasalnya selama mereka dekat, Silvia tak ingin mengetahui apa yang menjadi alasan Meisya tidak berpacaran. Ia takut jika Meisya kembali bertanya kepadanya akan cinta.
Tanpa berpikir panjang, Meisya langsung menjawab pertanyaan dari Silvia, "Aku gak mau tersakiti dengan hal-hal konyol. Lagi pula itu dosa, 'kan?"
"Iya juga ya," sahut Silvia sembari menggangguk-anggukkan kepalanya pertanda bahwa ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Meisya.
"Iya juga ya," sahut Silvia sembari menggangguk-anggukkan kepalanya pertanda bahwa ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Meisya.
"Kalau kita pacaran, pasti kita bawaannya cemburu, sakit hati, ngasih ini itu yang buat dompet kering, dan juga bawaannya pasti curiga terus. Untuk apa coba semua itu? Bukannya Allah sudah menetapkan bahwa jodoh adalah hal yang pasti datang? Lalu untuk apa kita mendekatkan diri dengan zina melalui pacaran? Bayarin pacar makanan, beliin hadiah dengan harga yang gak murah bukan dengan hasil keringat sendiri. Untuk apa? Masa sama Allah gak percaya? Selagi kita punya niat yang kuat dan usaha yang penuh, Allah pasti bantu kok. Kenapa harus takut gak punya jodoh. Gak di dunia, ya pasti bakal dipertemukan di akhirat," lanjut Meisya dengan menjelaskan alasan ia tak berpacaran yang sebenarnya.
"Bener kamu, Sya. Aku sendiri juga bingung sama orang-orang yang berpacaran. Kalau cuma untuk nyari teman chatting sama teman juga bisa," tutur Silvia yang setuju dengan ucapan Mesiya.
"Nah iya. Hidup jangan dibawa ribet!" tukas Meisya dengan senyuman manisnya.
"Pantas aja kita jadi teman, mungkin udah takdir karena alasan kita gak berpacaran itu sama," ucap Silvia kepada Meisya.
"Nah iya. Hidup jangan dibawa ribet!" tukas Meisya dengan senyuman manisnya.
"Pantas aja kita jadi teman, mungkin udah takdir karena alasan kita gak berpacaran itu sama," ucap Silvia kepada Meisya.
Meisya tertawa mendengar ucapan dari Silvia, "Mungkin! Oh ya, aku mau nanya ke kamu juga," ucap Meisya yang membuat seluruh tubuh Silvia menegang.
"Apa tuh?" tanya Silvia dengan cemas.
"Ada gak orang yang kamu suka di kelas?" tanya Meisya dengan rasa penasaran yang tinggi.
Bagaikan tersambar petir di tengah lapangan luas, dada Silvia mulai sesak dan pikirannya juga mulai bimbang harus menjawab apa kepada Meisya. Silvia terdiam sejenak dan mengambil minuman miliknya. Selesai ia minum, ia langsung menjawab pertanyaan Meisya dengan sedikit rasa cemas. "Enggak ah. Gak ada yang masuk tipe aku," jawab Silvia.
"Yakin? Aku gak percaya," ucap Meisya sembari menyipitkan matanya.
Silvia berusaha untuk terlihat tenang dan mulai menjawab pertanyaan dari Meisya kembali, "Iya. Lagian aku punya selera yang tinggi kok. Jadi, gak ada yang aku suka di kelas."
"Oke deh, aku percaya," ucap Meisya yang pada akhirnya membuat dada Silvia tak sesak lagi.
"Kalau kamu? Ada gak yang kamu suka di kelas?" tanya Silvia dengan rasa penasaran yang tinggi.
Meisya tampak tersipu malu ketika mendengar pertanyaan dari Silvia. Hal tersebut berbanding terbalik dengan hal yang dilakukan oleh Silvia tadi.
Bagaikan tersambar petir di tengah lapangan luas, dada Silvia mulai sesak dan pikirannya juga mulai bimbang harus menjawab apa kepada Meisya. Silvia terdiam sejenak dan mengambil minuman miliknya. Selesai ia minum, ia langsung menjawab pertanyaan Meisya dengan sedikit rasa cemas. "Enggak ah. Gak ada yang masuk tipe aku," jawab Silvia.
"Yakin? Aku gak percaya," ucap Meisya sembari menyipitkan matanya.
Silvia berusaha untuk terlihat tenang dan mulai menjawab pertanyaan dari Meisya kembali, "Iya. Lagian aku punya selera yang tinggi kok. Jadi, gak ada yang aku suka di kelas."
"Oke deh, aku percaya," ucap Meisya yang pada akhirnya membuat dada Silvia tak sesak lagi.
"Kalau kamu? Ada gak yang kamu suka di kelas?" tanya Silvia dengan rasa penasaran yang tinggi.
Meisya tampak tersipu malu ketika mendengar pertanyaan dari Silvia. Hal tersebut berbanding terbalik dengan hal yang dilakukan oleh Silvia tadi.
"Ada," cicit Meisya.
Silvia mengernyitkan dahinya bingung melihat tingkah Meisya yang tersipu malu saat ini. Lantas Silvia kembali bertanya kepada Meisya, "Siapa, Sya?"
Tanpa ada rasa ragu, Meisya menyebutkan satu nama yang membuat dunia Silvia terasa runtuh seketika. "Dirga Hanafi," ucap Meisya sembari tersenyum, "rupanya dia suka sama aku juga. Aku gak nyangka," lanjutnya.
Tanpa sadar air mata Silvia terjatuh dan tentu saja hal tersebut membuat Meisya terkejut. "Kenapa nangis, Sil?"
Silvia langsung menghapus air matanya dan berkata, "Ah aku terharu, Sya. Aku gak nyangka kalian saling suka. Aku bahagia. Jangan pacaran, ya! Nikah langsung!"
Empat tahun memendam, aku pikir bakalan berakhir bahagia. Ternyata enggak. Ini kali pertama aku patah hati cuma karena cinta. Aku harus ikhlas, mungkin dia bukan jodoh yang Allah pilih untukku. Semangat Silvia. Batin Silvia.
"Iya pasti! Aku bilang ke Dirga kalau aku gak mau pacaran. Terus dia bilang dia bakal langsung minta izin ke orang tua aku selesai kita wisuda. Aku benar-benar bahagia, Sil. Doain ya semoga ini yang terbaik untukku, dan jangan bilang ke siapa-siapa dulu," ucap Meisya yang semakin membuat hati Silvia remuk tak beraturan.
Mungkin ini risiko dari jatuh cinta. Di satu sisi aku bahagia karena kamu bahagia Sya. Tapi di sisi lain hati aku hancur. Mungkin selama ini aku mencintainya bukan karena Allah, makanya hatiku jadi sakit. Semoga kamu bahagia selalu, Sya. Batin Silvia.
Silvia berusaha tersenyum untuk Meisya dan mendoakan yang terbaik untuknya. "Bagus kalau gitu. Aamiin semoga kamu bahagia selalu. Nanti jangan lupa undang aku, ya," ucap Silvia berusaha tegar dengan kenyataan yang telah disiapkan untuknya.
Siap tidak siap, inilah risiko dari jatuh cinta. Ingat, jatuh cintalah karena Allah SWT, bukan karena nafsu semata.
Silvia mengernyitkan dahinya bingung melihat tingkah Meisya yang tersipu malu saat ini. Lantas Silvia kembali bertanya kepada Meisya, "Siapa, Sya?"
Tanpa ada rasa ragu, Meisya menyebutkan satu nama yang membuat dunia Silvia terasa runtuh seketika. "Dirga Hanafi," ucap Meisya sembari tersenyum, "rupanya dia suka sama aku juga. Aku gak nyangka," lanjutnya.
Tanpa sadar air mata Silvia terjatuh dan tentu saja hal tersebut membuat Meisya terkejut. "Kenapa nangis, Sil?"
Silvia langsung menghapus air matanya dan berkata, "Ah aku terharu, Sya. Aku gak nyangka kalian saling suka. Aku bahagia. Jangan pacaran, ya! Nikah langsung!"
Empat tahun memendam, aku pikir bakalan berakhir bahagia. Ternyata enggak. Ini kali pertama aku patah hati cuma karena cinta. Aku harus ikhlas, mungkin dia bukan jodoh yang Allah pilih untukku. Semangat Silvia. Batin Silvia.
"Iya pasti! Aku bilang ke Dirga kalau aku gak mau pacaran. Terus dia bilang dia bakal langsung minta izin ke orang tua aku selesai kita wisuda. Aku benar-benar bahagia, Sil. Doain ya semoga ini yang terbaik untukku, dan jangan bilang ke siapa-siapa dulu," ucap Meisya yang semakin membuat hati Silvia remuk tak beraturan.
Mungkin ini risiko dari jatuh cinta. Di satu sisi aku bahagia karena kamu bahagia Sya. Tapi di sisi lain hati aku hancur. Mungkin selama ini aku mencintainya bukan karena Allah, makanya hatiku jadi sakit. Semoga kamu bahagia selalu, Sya. Batin Silvia.
Silvia berusaha tersenyum untuk Meisya dan mendoakan yang terbaik untuknya. "Bagus kalau gitu. Aamiin semoga kamu bahagia selalu. Nanti jangan lupa undang aku, ya," ucap Silvia berusaha tegar dengan kenyataan yang telah disiapkan untuknya.
Siap tidak siap, inilah risiko dari jatuh cinta. Ingat, jatuh cintalah karena Allah SWT, bukan karena nafsu semata.

Semangattt!!👊
BalasHapusMaaciiii luvv
Hapus