#07-Racun? Tapi suka!
Katanya sakit, tapi sayang pun tak dilepas juga. Terlalu sayang katanya, sampai sakit tak lagi di rasa. Nanti kamu kembali bercerita, "dia kasar, dia pemarah, dia posesif." Lalu mereka hanya bisa mengatakan, "kamu yang pilih dia".
Inginnya bahagia, bebas, dan tidak sakit, tapi kamu masih bertahan dengan satu alasan—sangat cinta. Silakan makan cinta dan sayang itu sepuasnya, sampai kamu tak lagi mampu menemukan diri sendiri. Iya, sayang dan cintamu adalah segalanya bagimu, tapi baginya—sayang dan cintamu hanyalah sebuah kisah sementara.
Bukan bodoh, hanya saja itu buta. Diperbudak cinta dan rasa sakit. Apalagi yang ingin kamu remukkan? Hati, sudah. Pikiran, sudah. Badan, sudah. Jantung? Menyesal di kemudian hari, ketika remuk pun enggan bersua kepada dirimu.
Bukannya kamu tidak bisa meninggalkan, hanya saja kamu terlalu cupu untuk mengenal kecerdasan. Sadarlah, tak ada guna berlama-lama dengan si petinju amatiran. Allah masih setia di sampingmu, temui dia dan curahkan semua racun yang ada pada diri manismu.
Allah juga sudah janji, janji yang tak mungkin Allah ingkari, yang baik-baik pasti akan bersama yang baik pula. Lalu sekarang yang meragu siapa? Kamu 'kan? Hidup, rezeki, jodoh, kematian sudah ditentukan. Lalu mengapa kamu risau untuk melepaskan yang seharusnya dilepaskan?
Kamu selalu bilang itu menjadi beban. Pundakmu terasa berat seperti menimang ribuan batu raksasa. Tapi kamu seperti itu lagi, memuaskan dunianya lalu mengabaikan dunia yang seharusnya indah. Tidak apa-apa, terus nikmati racun itu sampai matamu tak sanggup mencium warna warni dunia.
Bukan Allah yang memberikan kamu hubungan yang beracun, tetapi pilihanmu sendiri. Hidup ini pilihan, bukan? Itu selalu bergantung pada pilihanmu. Selamat menikmati racun yang memabukkan. Semoga suatu hari nanti kamu terbangun dari mimpi indah yang kamu buat sendiri.

Komentar
Posting Komentar